Jalur Kata Kereta Kita

Mencatat perjalanan kereta rel listrik (KRL) menyusuri jalur kata-kata.

Selasa, 18 Februari 2014

Tahu Sumedang

Puisi Setiyo Bardono

Ketika gejolak kehidupan
kau rasa hanya mematangkan
kulit permukaan, diam-diam
ia bekerja menciptakan rongga
ruang renung menekuri makna
mencari tahu dibalik peristiwa
hingga kita senantiasa sedia
mengecap gurih menelan pedas
sampai perjalanan menjemput tandas.

Stasiun Gondangdia, 17 April 2008
Diposting oleh Unknown di 16.24
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya

Unknown
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ►  2016 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2015 (13)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2014 (31)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (11)
    • ▼  Februari (15)
      • Puisi Kuliner di Stasiun dan Sekitarnya
      • Mejeng di Acara Ada-Ada Saja Trans TV - 19 Juni 2010
      • 2 Puisi Kereta di Buletin Jejak
      • Puisi Kereta Mejeng di Pinggiran Danau Zug, Swiss
      • 4 Puisi Kereta di Buku Antologi Resonansi
      • 4 Puisi Kereta di Buku Empat Amanat Hujan
      • Titian Rel Air Mata
      • Dua Puluh Detik! Yang Menentukan
      • Menyaruk Iba
      • Tahu Sumedang
      • Menuju Dingin
      • Percakapan Atap Kereta
      • Lipatan Karcis
      • Mudik Setiap Saat
      • Aku Mencintaimu Dengan Sepenuh Kereta
Tema Kelembutan. Diberdayakan oleh Blogger.