Senin, 06 April 2015
Rabu, 01 April 2015
Bukan Celana Kolor Biasa
Walaupun sudah mengantongi ijazah dari Akademi Copet Indonesia, Maman masih kurang percaya diri. Ia pun berkonsultasi dengan Ki Dedi Sudedi.
"Dengan memakai celana kolor ajaib ini, tubuhmu bisa menghilang dan tidak akan terlihat mata biasa. Kamu akan leluasa beroperasi," kata Ki Dedi.
Maman tersenyum puas menerima celana kolor yang masih tersegel rapi lengkap dengan manual book-nya.
"Jangan lupa bayar mahar dan biaya konsultasinya. Bisa cash atau pake kartu kredit kok. Tanya saja sama Maya Bohay, sekretaris saya berapa total biayanya," kata ki Dedi.
Tak lama kemudian Maya datang, diiringi nyanyian dari mulut ki Dedi, "Maya... Maya.. engkau asisten paranormal. Maya... Maya...."
"Oke, saya kira sudah cukup konsultasinya. Maaf saya harus menjawab email dari pejabat," kata ki Dedi. Paranormal itu langsung asyik dengan ipad-nya.
Pagi harinya, sesampainya di Stasiun Depok Baru, Maman ingin mencoba kesaktian celana kolornya. Kalau tubuhnya menghilang kan ia bisa masuk stasiun dengan gratis.
Di tempat yang aman, Maman memakai kolor dan membaca matra. Maman merasakan perubahan pada tubuhnya.
Maman melangkah percaya diri menuju pintu masuk stasiun. Di luar dugaan, banyak orang yang menjerit dan lari ketakutan.
"Hantu... Ada Hantu..."
Rupanya mereka histeris melihat penampakan baju, celana dan sepatu berjalan sendiri. Ternyata celana kolor sakti itu hanya mampu menghilangkan tubuh Maman. Setelah adegan kejar mengejar, akhirnya PKD berhasil meringkus Maman.
Tak lama kemudian, situs KRLMania-Online menurunkan berita, "Penampakan Hantu Hebohkan Stasiun Depok Baru."
-----
Berkat ilmu dari Akademi Copet Indonesia yang termuat dalam Buku Panduan Praktis Sukses Mencopet, Maman berhasil mengelabui dan lolos dari cengkeraman petugas keamanan. Keramaian Pasar Kemiri dekat Stasiun Depok Baru menyelamatkan dirinya.
Sambil menyeruput es cendol, Maman menelpon Ki Dedi, menceritakan apa yang telah terjadi. Ia sempat marah bermaksud mengembalikan celana kolor ajaib itu.
"Ini pasti kolor KW ya Ki. Hampir saja saya digebukin massa. Lebih baik saya kembalikan saja deh," kata Maman ketus.
"Maaf Mas, sesuai peraturan: kolor yang sudah dipakai tidak bisa dikembalikan. Bukan apa-apa, baunya itu lho. Jijay tahu. Sampeyan pasti tidak baca manual book, di situ kan tertulis: syarat dan ketentuan berlaku," celoteh Ki Dedi.
Kemudian Ki Dedi menjelaskan kalau celana kolor yang dipakai Maman masih versi 2.0. Kekuatan celana itu baru bisa menghilangkan tubuh.
"Tapi jangan kuatir, sekarang ada kolor generasi baru versi 2.1. Kolor itu mampu menghilangkan tubuh dan pakaian seseorang hingga tak terlihat pandangan."
"Wah, boleh juga Ki," kata Maman Antusias.
"Sayang stoknya sedang kosong. Mungkin bulan depan baru tersedia setelah saya bertapa di Gunung Sindur. Soalnya kiriman tenda ekslusif dari toko online belum datang-datang," jawab Ki Dedi.
"Walah, mau bertapa aja pesen tenda dulu. Terus bagaimana nasib kolor ini Ki. Percuma dong saya punya kolor ajaib ini."
"Ya enggaklah lah, kamu kan bisa memakai kolor itu tanpa pakai baju. Jadi nggak kelihatan orang. Gampang to. Yo wis sementara itu nasehat saya. Maaf saya mau wiskul dulu ama Neng Maya."
Setelah membayar es cendol, Maman bergegas menuju Toilet umum. Di kamar mandi, Maman pun mencopot semua bajunya dan hanya mengenakan celana kolor. Baju, celana dan sepatu disimpannya di atas eternit kamar mandi.
Saat keluar, ia mencoba mencolek kepala penunggu toilet. Lelaki muda itu nampak kebingungan. Maman tersenyum, berarti tubuhnya sudah tidak kelihatan lagi.
Maman pun berjalan menuju stasiun. Ia berniat untuk jalan-jalan naik kereta, survei kondisi di kerta sekaligus buang sial. Rasanya hari ini ia tidak usah mencopet terlebih dahulu.
Di perjalanan Maman iseng menepuk punggung penjual jambu dan mencolek pipi bakul jamu. Maman juga sukses menerobos gate in stasiun Depok Baru tanpa ketahuan.
Hampir setengah hari, Maman mondar-mandir naik kereta. Beberapa penumpang yang ada di dekatnya menampakkan wajah penuh tanya. Pasti mereka berpikir, sepertinya ada orang kok tidak kelihatan.
Malam harinya, Maman harus pasrah saat Emaknya ngomel sambil mengeroki punggungnya. Naik KRL hanya memakai celana kolor rupanya sangat beresiko. Hembusan dingin AC kereta membuat tubuh Maman masuk angin.
--------------
Depok, 1 April 2015
Selasa, 17 Maret 2015
Cerpen Jola-Joli Dari Cikini di Majalah Hai
Cerpen Jola-Joli Dari Cikini mejeng di Majalah Hai edisi 11 tanggal 16-22 Maret 2015
JOLA-JOLI DARI CIKINI
Cerpen
Setiyo Bardono
===============================================================
Jemari Panji asyik berselancar di
permukaan layar telepon genggam. Percakapan di grup WhatsApp
(WA): Train to School membuat Panji lupa
diri. Saat itu tubuhnya bersandar di dekat pintu kereta rel listrik (KRL). Area
yang membutuhkan kewaspadaan ekstra.
Sepasang daun pintu kereta melakukan
percobaan penutupan. Seperti biasa, pintu kembali terbuka sebentar sebelum
mengatup sempurna. Itulah isyarat yang hendak disampaikan pintu kepada kereta sebelum
beranjak meninggalkan stasiun.
Jika sigap, seseorang masih bisa
memanfaatkan celah waktu saat pintu menutup untuk menyelinap masuk atau keluar ke
dalam kereta. Penumpang yang baru sampai di stasiun dan tak mau menunggu kereta
berikutnya. Penumpang yang terlena, kemudian sadar kalau KRL sudah sampai di
stasiun tujuan. Ada juga seseorang yang sengaja mengincar kesempatan untuk
keluar sambil menyambar.
"Jambret! Jambret!"
Seisi kereta mendadak heboh
mendengar teriakan Panji. Telepon genggamnya seketika berpindah tangan. Berbagai
reaksi, teriakan dan celotehan memenuhi sekujur kereta. Rupanya ada sepasang
mata yang jeli mengamati gerak-gerik Panji. Pasti mata itu berbinar-binar
menatap smartphone kinclong di tangannya.
Begitu kesempatan tiba, tangannya bergerak menyambar ponsel Panji dan menyelinap
keluar. Panji pun reflek mengejar.
Heks! Daun pintu kereta menggencet
tubuhnya seperti tempe penyet. Ia berharap semoga tak ada tulang rusuknya yang
patah. Namun kondisi pintu yang terganjal membuat kereta mengurungkan niat
untuk beranjak. Sesuai prosedur keselamatan, jika pintu tak tertutup sempurna,
kereta tak akan diberangkatkan.
Pintu kereta mengendurkan
cengkeramannya. Panji bergegas mengejar penjambret yang kabur secepat babi
ngepet. Pejambret pasti sudah mencapai ujung rangkaian dan meloncat dari lantai
peron ke rel kereta. Di jalur penuh bebatuan penjambret akan berlari kencang menghindari
kejaran. Tengah hari bolong begini, kondisi stasiun Depok sepi.
Sampai ujung peron, dengan nafas terengah,
Panji terperangah. Ia mengucek mata, seakan tak percaya. Di atas rel kereta,
nampak seseorang sedang berkelahi menaklukkan penjambret. Bukan penumpang
lelaki atau satpam stasiun, tapi seorang gadis berambut panjang. Dari
gerakannya, terlihat kalau gadis itu memiliki ilmu beladiri.
Beberapa penumpang berdatangan
memenuhi ujung peron. Semua berdecak kagum melihat ketangguhan gadis itu. Dalam
sekejap, penjambret berhasil diringkusnya. Dua orang satpam berlarian
menghampiri TKP (Tempat Kejadian Peringkusan). Penjambret langsung diseret
menuju stasiun, diiringi teriakan dan caci maki.
Di ruang satpam, Panji dan gadis itu
dimintai keterangan. Panji jadi tahu siapa pahlawan penolongnya. Gadis jagoan
itu bernama Juleha, anak Cikini, siswi kelas 3 SMA Perjuangan di Pasar Minggu. Berarti
tak jauh dari sekolahnya di SMK Generasi Bangsa, dekat stasiun Lenteng Agung.
Sebagai penggemar berat kereta, rupanya
Juleha sedang hunting foto di stasiun
Depok. Saat sedang mencari obyek yang menarik, ia melihat ada lelaki berlari
kencang diiringi teriakan, “Jambret…”. Juleha langsung mengejarnya hingga
terjadi perkelahian.
“Terima kasih ya. Kalau tidak ada
Juleha, entah bagaimana nasib hape
saya.”
“Makanya hati-hati kalau mainan hape di kereta,” jawab Juleha dengan
cueknya.
Panji garuk-garuk kepala. Ia sempat keder berada di dekat Juleha. Tapi
setelah mencuri-curi pandang, ternyata Juleha cantik juga. Panji merasa ada
desir aneh di dalam hatinya. Sepertinya ia telah jatuh cinta pada pandangan
kereta.
--- oOo ---
Panji tak henti menciumi ponsel-nya.
Hampir saja tangan jambret memisahkan kebersamaan yang baru terjalin dua
mingguan. Untung saja, ada supergirl
yang datang menolongnya. Oh, Juleha gadis cantik dari Cikini, kenapa bayang wajahmu
tak bisa hilang dari hati.
Panji menatap langit-langit
kamarnya. Peristiwa siang ini telah mempertemukannya dengan bidadari pujaan
hati. Ah, mengapa tadi ia tak menanyakan nomer telepon Juleha. Ternyata
kecantikan Juleha telah menyihir pikiran. Jalan satu-satunya, ia harus
menanyakannya pada kepala satpam stasiun Depok.
Panji membuka akun facebook-nya, ia ingin sekali curhat
masalah kecopetan tadi di grup krlmania. Ternyata sudah ada member yang menggunggah foto seorang lelaki
berdiri di Stasiun Manggarai. Orang tersebut bertelanjang dada, hanya memakai celana
kolor dan berkalung kardus dengan tulisan: SAYA COPET!
Panji sepertinya mengenali sosok
lelaki yang dipajang dan menjadi tontonan gratis. Tak salah lagi, lelaki ini
yang telah menjambret telepon genggamnya. Keterangan foto menguatkan dugaannya.
Syukurin! Penjahat seperti dia memang harus dikasih pelajaran.
Tapi dalam foto itu tak ada
keterangan kalau yang meringkus penjambret itu seorang siswi SMA. Ah, biar
saja, nanti kalau ketahuan bisa-bisa jadi banyak saingan yang mendekati Juleha.
Tapi apakah ia punya nyali?
Panji terus membaca komentar yang
bermunculan. Tiba-tiba matanya terpaku pada akun bernama Fjola Imoet. Foto
profilnya menampilkan raut muka seorang gadis. Sayang ada rambut hitam panjang
tergerai yang sengaja diatur menutupi sebagian wajah. Walau begitu Panji merasa
pernah melihat senyuman sang gadis.
Komentar yang pedas dan sedikit
sadis menguatkan keyakinan Panji untuk menelusuri si pemilik akun. “Badan masih
kekar gitu, cari kek kerjaan yang halal buat kasih makan anak istri. Masih
untung hanya dipajang doang, coba kalau digebukin atau dibakar massa.”
Beberapa keterangan dalam profil akun
Fjola Imoet memiliki kesamaan data dengan Juleha. Mereka sama-sama siswi SMA
Perjuangan. Hobinya sama: hunting foto kereta. Berambut panjang juga. Dalam
beberapa pose fotonya, walau tersamar Panji yakin bahwa Fjola tak lain adalah
Juleha.
Dengan mantap Panji memberanikan
diri mengajukan permintaan pertemanan. “Aku yakin kamu Juleha yang menolongku dari
jambret di stasiun Depok. Mungkinkah kita bisa berteman?”
Tak disangka, respon pemilik akun
sangat cepat. Dalam sekejap, pertemanannya diterima, dengan jawaban lumayan
sinis.
Fjola: “Terus kalau sudah berteman
mau apa?”
Panji: “Ya barangkali saya bisa
berteman lebih dekat. O iya, Panji perlu mengucapkan terima kasih atas
pertolongannya.
Fjola: “Tadi kan udah terima kasih. Pake
siaran ulang kayak FTV.”
Panji: “Galak amat! Eh panggilnya
Jola apa Juleha sih.”
Fjola: “Terserah! Mau Juleha, Jola atau
Joli, asal jangan Bang Jali aja.”
Panji tersenyum, ternyata Juleha
bisa juga bercanda. Seketika Panji teringat lagu Jali-Jali dari Betawi.
Ini dia si Jola-Joli. Wajahnya cantik wajahnya cantik menarik
hati.
--- oOo ---
Walau sudah cukup lama menjalin
pertemanan, hubungan Panji dan Juleha belum mengalami perkembangan signifikan.
Beberapa kali Panji melakukan pendekatan dengan mengirim puisi dan kata-kata
indah, namun ditanggapi dingin-dingin saja. Permintaannya untuk bisa bertandang
ke rumah Juleha selalu mendapat penolakan halus. Mau menyantroni SMA
Perjuangan, Panji tak punya nyali.
Pencapaian terbaik Panji baru dalam
tahap menemani Juleha hunting foto di Stasiun Cilebut. Tapi Panji hanya bisa
melihat Juleha asyik dengan kameranya, membidik stasiun dan KRL yang melintas.
Saat istirahat di Warung Bakso Cinta depan stasiun Cilebut, sebenarnya ada
kesempatan untuk mengungkapkan isi hati. Namun, entah mengapa lidah Panji kaku
seperti kanebo kering.
Malam semakin matang, namun Panji
tak juga bisa memejamkan mata. Pikirannya terus terbayang-bayang pesona Juleha,
yang trengginas seperti Angelina Joli. Sepertinya benar kata Fahmi, sahabatnya,
“Juleha itu bukan gadis sembarangan, jadi harus didekati dengan cara istimewa.
Kalau cara-cara biasa pasti tidak akan diterima.”
Panji tersenyum. Sebuah ide
cemerlang melintas di kepalanya. Tiba-tiba Panji tak sabar ingin lekas melihat
matahari pagi.
Jola Joli dari Cikini sayang. Jola Joli dari Cikini, aku tak
menyerah sampai di sini
Sepulang sekolah, Panji mengajak
Fahmi menuju stasiun Manggarai. Sebenarnya Fahmi tidak setuju dengan rencana
gilanya. Tapi sebagai sahabat sejati, ia terpaksa menemani.
“Cinta memang gila,” ujar Fahmi.
Di keramaian Stasiun Manggarai,
Panji bergerak cepat untuk melaksanakan prosesi pernyataan cinta tak biasa.
Sebelumnya ia membisiki petugas keamanan stasiun agar rencananya berjalan
lancar. Petugas keamanan hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Walau sempat
menimbulkan sedikit keriuhan, rencana itu berjalan dengan baik.
Panji tersenyum puas saat menatap
layar telepon genggamnya. Dengan beberapa sentuhan, ungkapan cintanya pada
Juleha meluncur deras menerobos ruang maya. Panji tidak bisa membayangkan ekspresi
Juleha saat membuka akun facebook-nya.
Gadis itu akan mendapati sebuah gambar terpampang di linimasa.
Foto Panji berdiri di peron stasiun
Manggarai dengan leher berkalung karton bertuliskan: “IJINKAN SAYA MENCOPET HATIMU
JULEHA.”
--- oOo ---
Depok, 12 Januari 2015
*Setiyo Bardono, TRAINer kelahiran Purworejo 15 Oktober, penulis
buku antologi puisi “Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta” dan novel kereta
“Separuh Kaku.”
Telpon:
0812 9384 1145
Email:
setiakata@yahoo.com
Selasa, 03 Maret 2015
Cermin: Catatan Kecil dari Ibu
Nak, hati-hati hidup di ibukota. Carilah rejeki yang halal. Jangan lupa sholat lima waktu. Doa ibu selalu menyertaimu.
Mataku berkaca-kaca membaca tulisan tangan yang kukenali sebagai goresan tangan ibu. Tak henti kupandangi selembar foto hitam putih. Walaupun kusam, namun senyum ibu jelas tergambar
.
Suasana ujung peron stasiun Depok seketika terasa asing. Aku kembali meneliti isi dompet, mencoba mencari jejak masa lalu. Namun tak kutemukan apa-apa.
Kembali kubaca catatan dari ibu yang datang dengan cara tak terduga. Sebelumnya, di sesak Commuterline, tanganku bertindak sigap. Tas seorang perempuan kusilet, merogohnya dan meraba dompet.
Tak kusangka, dompet itu berisi catatan dan foto ibu. Hatiku tak henti mendegupkan tanya: Siapa gerangan perempuan yang kucopet itu?
Depok, 3 Maret 2015
Setiyo Bardono, TRAINer kelahiran Purworejo 15 Oktober. Penulis buku antologi puisi Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012) dan novel Separuh Kaku(Penerbit Senja, 2014).
Senin, 02 Maret 2015
Cermin (Cerita Mini): Tempat Duduk untuk Ibu
Sudah seperempat jam perjalanan, namun ibu belum juga mendapat tempat duduk. Sejak ibu naik Commuterline dari Stasiun Bekasi, aku selalu memantau keadaannya.
Mengapa tak ada satupun penumpang yang terketuk hatinya. Ibu memang belum terlihat seperti nenek-nenek renta. Mungkin itu sebab belum ada penumpang yang mau memberinya tempat duduk. Tapi tidak adakah satupun penumpang yang merasa iba melihat seorang ibu harus berdiri lama di atas kereta?
Kalau saja aku menemaninya, pasti ibu sudah duduk manis. Tapi aku tak bisa berbuat banyak. Langkah kakiku sudah mendekati Stasiun Depok Baru ketika pesan dari ibu menyapa telepon genggamku.
"Pagi ini ibu mau ke Depok. Ibu kangen sama Panji. Sekarang ibu sudah naik angkot, sebentar lagi sampai di stasiun Bekasi."
Begitulah ibu, kalau sudah kangen cucunya, ia tak mau menunggu. Kalau saja ibu mau menunda rencana hingga Sabtu atau Minggu nanti, agar aku bisa menjemputnya atau ayah punya waktu menemaninya. Pasti ayah sudah berusaha mencegah, sebab ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
"Ibu hati-hati ya. Jangan lupa nanti turun di Manggarai terus naik KRL jurusan Bogor/Depok di jalur enam."
--- oOo ---
Kereta Commuterline yang membawa ibu sudah sampai di stasiun Jatinegara. Namun nasib baik belum menghampirinya. Belum satupun penumpang yang bermurah hati memberinya tempat duduk. Apakah kepedulian sudah menjadi barang langka di belantara ibukota?
Menjelang stasiun Pasar Minggu, KRL Commuterline yang kunaiki melambatkan lajunya. Ketika hendak menengok keluar, mataku beradu pandang dengan seorang penumpang. Sesosok perempuan seumuran dengan ibu tersenyum kepadaku. Entah sudah berapa lama ibu ini berdiri di depanku.
Di saat aku berharap ada penumpang peduli pada ibu, ternyata aku juga mengabaikan seorang ibu. Seketika kulepas earphone yang menyumpal telingaku. Aku langsung berdiri dan memberikan tempat dudukku padanya.
"Terima kasih, Nak. Semoga Allah membalas kebaikanmu."
Saat aku menganggukkan kepala, telepon genggamku bergetar. Suara ibu terdengar di sela-sela derak kereta.
"Sekarang ibu sudah naik KRL tujuan Bogor. Alhamdulillah, ada yang memberi ibu tempat duduk, seorang lelaki seumuran kamu."
Ibu yang duduk di hadapanku kembali tersenyum. Entah mengapa tiba-tiba mataku terasa basah.
Depok - Cawang, 3 Februari 2015
Setiyo Bardono, TRAINer kelahiran Purworejo 15 Oktober. Penulis buku antologi puisi Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012) dan novel Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Sabtu, 10 Januari 2015
Pembaca Separuh Kaku
Terima kasih pada teman-teman yang mau membaca novel separuh kaku dan mengirimkan foto narsisnya
.
None Ica, mantan abang none Jakarta 2008 berpose dengan Mantan Akang Purworejo tahun 2010
Staff kurang ahli bertemu dengan Sri Widodo, Staf Ahli bidang kelautan dan perikanan
Yang ini mah pose malu-malu. Siapa yak???
Mbah Klewung, dedengkot Roker yang lama menghilang terus turun gunung eh turun stasiun.
Mbak Muni Lestari, Ratu Pakuan
Om Nasrulloh pengusaha buku limited edition
Pandu Aji Prakoso, roker Bekasi
Jeng Rini Clara, Wartawan dan Penulis Senior
Lagi nongkrong di Manggarai disidak oleh om Andrie, penyidik KPK. Novel disita buat barang bukti.
Bidan Delima ikut minta tanda tangan juga
Om Untung Rohwadi, dosen yang suka naik kereta
Sabtu, 01 November 2014
Novel KRL: Separuh Kaku - Setiyo Bardono
Novel Separuh Kaku
Penulis: Setiyo Bardono
Penerbit Senja, Oktober 2014
"dan terjadi lagi
gangguan sinyal yang terulang kembali
kuberdiri lagi
berdesakan di kereta harus kujalani."
Cerita dalam buku ini merupakan kelanjutan dari Novel Koin Cinta.
Kepindahan orang tua dari Depok ke Cilebut membuat Panji akrab dengan kereta rel listrik (KRL). Gara-gara tragedi ingus, Panji berkenalan dengan Eka Naomi Keretawati hingga berujung pada peristiwa Salah Wati.
Sejak menjadi TRAINer, Panji dekat dengan gadis-gadis cantik. Dari Eva Peron hingga gadis mirip Ussy Sulistyowati, tapi KW2. Namun entah mengapa kisah cinta Panji selalu lucu tapi pilu.
Kekecewaan cinta membuat Panji menjalani jalur salah hingga jadi ataper. Namun peristiwa tragis membuatnya tersadar.
Ikuti kisah Panji, seorang TRAINer, dalam kesehariannya di ular besi. Termasuk aktivitas Panji sebagai penyerang utama klub sepak bola Trainham Hotsepur, yang siap menggasak dominasi Klub Real Cilebut dan Barca (Barisan Remaja Cilebut Asri) FC.
Novel ini membawa pembaca (terutama roker) untuk bernostalgia mengenang hiruk pikuk krl ekonomi.
"Karena separuh kaku, kakiku."
Sementara novel ini bisa dibeli di toko buku online. Insya Allah nanti akan tersebar di toko buku gramedia terdekat
http://divapress-online.com/product/view/3011/separuh_kaku.html
http://www.bukukita.com/Buku-Novel/Romance/129772-Separuh-Kaku.html
Penulis: Setiyo Bardono
Penerbit Senja, Oktober 2014
"dan terjadi lagi
gangguan sinyal yang terulang kembali
kuberdiri lagi
berdesakan di kereta harus kujalani."
Cerita dalam buku ini merupakan kelanjutan dari Novel Koin Cinta.
Kepindahan orang tua dari Depok ke Cilebut membuat Panji akrab dengan kereta rel listrik (KRL). Gara-gara tragedi ingus, Panji berkenalan dengan Eka Naomi Keretawati hingga berujung pada peristiwa Salah Wati.
Sejak menjadi TRAINer, Panji dekat dengan gadis-gadis cantik. Dari Eva Peron hingga gadis mirip Ussy Sulistyowati, tapi KW2. Namun entah mengapa kisah cinta Panji selalu lucu tapi pilu.
Kekecewaan cinta membuat Panji menjalani jalur salah hingga jadi ataper. Namun peristiwa tragis membuatnya tersadar.
Ikuti kisah Panji, seorang TRAINer, dalam kesehariannya di ular besi. Termasuk aktivitas Panji sebagai penyerang utama klub sepak bola Trainham Hotsepur, yang siap menggasak dominasi Klub Real Cilebut dan Barca (Barisan Remaja Cilebut Asri) FC.
Novel ini membawa pembaca (terutama roker) untuk bernostalgia mengenang hiruk pikuk krl ekonomi.
"Karena separuh kaku, kakiku."
Sementara novel ini bisa dibeli di toko buku online. Insya Allah nanti akan tersebar di toko buku gramedia terdekat
http://divapress-online.com/product/view/3011/separuh_kaku.html
http://www.bukukita.com/Buku-Novel/Romance/129772-Separuh-Kaku.html
Langganan:
Postingan (Atom)
















